Ads

Evergrande: Akankah Menjadi Tanda Awal Kejatuhan Pasar Properti?

Evergrande Build

Rahmatullah.id - Evergrande merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di China saat ini yang sedang mengalami kesulitan finansial dan terancam gagal bayar hutangnya. Dalam jangka pendek, Evegrande punya kewajiban liabilitas dengan nilai mencapai ratusan juta US Dollar.

Kasus ini mengingatkan banyak analis kepada krisis keuangan tahun 2008 yang juga sama-sama diakibatkan oleh sektor properti. Pada krisis 2008, itu terjadi karena adanya bubble transaksi jual beli properti dengan tidak mengukur resiko penyaluran kredit pembeliannya. Saat itu, kesalahan tersebesar ada pada lembaga keuangannya.

Pada kasus Evergrande, bukan Lembaga keuangan yang memulainya, tetapi perusahaan pengembang propertinya yang sedang mengalami kesulitas finansial. Tentu itupun akan berefek kepada Lembaga keuangan mengingat Evergrande merupakan perusahaan properti terbesar di China.

Selain itu, Evergrande juga memiliki 36,4% saham Shengjing, top 24 Bank di China dengan aset 781 T

Saat ini total liabilitas Evergrande mencapai 300 Miliar US Dollar atau setara 4.260 Triliun Rupiah. Liabilitas ini didapatkan dari aktivitas bisnis Evergrande yang terlalu agresif masuk ke lintas sectoral. Mulai dari klub sepakbola hingga wahana hiburan.

Aktivitas bisnis yang agresif dari Evergrande bukan tanpa sebab, karena perusahaan pengembang properti tersebut yakin bahwa kondisi penjualan properti di China masih sangat baik mengingat saat ini masyarakat China masih banyak yang rela membeli properti karena mereka menganggap bahwa beli properti merupakan Bagian dari investasi.

Ini terbukti dari penyampaian manajemen yang menyebutkan bahwa potensi gagal bayar ini dikarenakan perusahaan belum mampu menyerap pendapatan dengan cepat. Karena dalam bisnis model pengembangan properti, produknya bukan jenis fast moving.

Selain itu, harga rumah di China naiknya juga cukup signifikan, sekitar 4% per tahun. Berikut datanya:

Dalam 3 bulan terakhir terjadi cooling down harga properti di China untuk sedikit menenangkan angka permintaan masyarakat terhadap properti sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ternyata efek bubble ini mulai pecah dengan pemicu dari Evergrande akhir-akhir ini.

Lalu, Bagaimana dengan Indonesia? Akankah terkena dampaknya? 


Supported: Sharfin.id

Advertisement