Muslim VS Penjajahan Abad 17-19

Rangkuman Sejarah

Tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara berbarengan dengan datangnya penjajah-penjajah dari daratan Eropa (Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, sampai pemerintahan Perancis Napoleon). Sejak Eropa keluar dari Dark Ages (zaman kegelapan), mereka membabi buta menjajah benua-benua lain. Penduduk asli Amerika utara, tengah, dan selatan di bantai, begitu pula benua Australia. Nusantara pun menjadi incarannya. Kali ini kita akan menceritakan epik sejarah perlawanan kerajaan-kerajaan Islam melawan penjajah Eropa.

Kedatangan Portugis dan Spanyol

Portugis membangun pelabuhan di Sunda kelapa. Kesultanan Demak & Cirebon berkoalisi untuk merebut Sunda kelapa dari Portugis. diutuslah Fatahilah oleh Demak & Sunan Gunung jati untuk merebut sunda kelapa dari portugis. dan akhirnya berhasil, kota Sunda kelapa pun diubah namanya menjadi Jayakarta. tanggal 22 Juni 1527 dijadikan hari lahir kota Jakarta. setelah menguasai Jayakarta, mulailah berkembang Kesultanan Islam Banten dan Cirebon, mengislamkan orang Sunda.

Portugis dan Spanyol bernafsu merebut Indonesia Timur, terutama Maluku. mereka pun rebutan hingga akhirnya diadakan perjanjian bahwa Spanyol harus hengkang dari Nusantara. hanya sampai situlah penjajahan Spanyol.

Pengusiran Portugis oleh Sultan di Maluku

Setelah pengangkatan Baabullah sebagai sultan Ternate, di bawah sumpah, ia berjanji tidak akan berhenti mengusir orang-orang Portugis dari wilayah Maluku.

Benteng–benteng Portugis di Ternate, yakni Tolucco, Santo Lucia, dan Santo Pedro jatuh dalam waktu singkat hanya menyisakan Benteng Sao Paulo kediaman De Mesquita. Atas perintah Baabullah, pasukan Ternate mengepung Benteng Sao Paulo dan memutuskan hubungannya dengan dunia luar. Suplai makanan dibatasi hanya sekedar agar penghuni benteng dapat bertahan. Selama lima tahun orang-orang Portugis dan keluarganya hidup menderita dalam benteng, terputus dari dunia luar sebagai balasan atas pengkhianatan mereka.

Pada 26 Desember 1575, orang Portugis pergi secara memalukan dari Ternate dan tak satupun yang disakiti. Serdadu Portugis yang awalnya berjumlah 9.000 orang, menyerah, dan hanya menyisakan 900 orang (400 orang sehat, 500 orang kelaparan dan sakit)

Kedatangan Belanda

Selanjutnya, awal abad 17, sebuah perusahaan asing asal Belanda bernama VOC datang ke Nusantara. di sinilah mereka berkonflik dengan Portugis. dari Aceh, Banten, Gowa sampai Maluku Tentara Portugis berperang melawan tentara VOC Belanda. bukan hanya itu, mereka juga berebut Properti dan dukungan politik dari penguasa setempat.

VOC memenangkan pertarungan, karena banyak rakyat dan penguasa di berbagai tempat diberi persenjataan dan bantuan militer untuk melawan penjajah Portugis. ini membuat rakyat dan penguasa Nusantara bersimpati pada Belanda. tentu, itu hanya modus.

Tahun 1600-an Belanda mulai berbisnis di Pulau jawa, sudah pula memonopoli perdagangan di Maluku. mulailah datang Inggris ke Maluku. konflik lagi antara Inggris-Belanda. makin lama mulai terlihat taringnya, VOC menjajah tanah Maluku. Bahkan di Banten ada pos-pos VOC karena VOC dianggap hanya berbisnis. tanggal 30 Mei 1619 - JP Coen dari VOC melakukan penyerangan terhadap Kesultanan Banten dan mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. kota Fatahillah kini dikuasai VOC.

Perlawanan Sultan-Sultan Jawa

Dikuasainya Sunda kelapa (batavia/jakarta) oleh VOC membuat geram penguasa-penguasa Nusantara. salah satunya adalah Sultan Agung dari Mataram. beliau yang tadinya menjalin hubungan bisnis dengan VOC justru berbalik menentang VOC.

Ia berkoalisi dengan 3 kerajaan besar Islam di Pulau jawa (Banten, Cirebon, dan Sumedang larang). inilah koalisi rakyat jawa yang bersatu menyerbu Batavia. Maka, pada 27 Agustus 1628 pasukan Mataram tiba di Batavia. Pasukan kedua tiba bulan Oktober. Total semuanya adalah 10.000 prajurit. Perang besar terjadi di benteng Holandia.

Pasukan Mataram mengalami kehancuran karena kurang perbekalan logistik, karena mataram di jawa tengah & jatim, sedangkan Batavia (jakarta) sangat jauh perjalanan tempuhnya.

Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada tahun berikutnya. Total semua 14.000 orang prajurit. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon. Namun pihak VOC berhasil membakar semuanya. tapi serangan kedua ini berhasil membunuh jendral JP coen.

Kedatangan Inggris

Pada tahun 1799–1815, di Eropa terjadi peperangan saudara dahsyat antara kubu Napoleon (perancis, Denmark, Swedia dsb) melawan kubu sekutu (Inggris, Rusia, Jerman Prusia, Austria dsb). belanda ditaklukkan Perancis, otomatis semua daerah jajahannya termasuk Nusantara jatuh ke tangan perancis. Kaisar Napoleon Bonaparte, mengirim jendral Daendels ke Hindia Belanda dan dinobatkan jadi Gubernur-Jenderal. Daendels inilah yang membuat jalan dari Anyer sampai panarukan, yang hari ini kita kenal sebagai jalur Pantura. rakyat dipaksa kerja Rodi sampai banyak yang tewas dan penyakitan. 

Inggris bernafsu mencaplok Jawa. maka pada tahun 1810-1811 Jawa diserbu inggris. Jendral Daendels waktu itu sudah digantikan Jansen. terjadilah perang Napoleonic di tanah jawa antara Inggris melawan Belanda Perancis. Batavia diserbu roket-roket dan akhirnya Inggris berhasil menguasai tanah jawa. Gubernur yang terkenal adalah Thomas Stamford Raffles. Raffles ini sikapnya agak beda dengan Belanda, agak lebih bersahabat. kerja Rodi dihapuskan, perbudakan dihapuskan, tapi warga pribumi tidak boleh berpolitik dan petani wajib bayar sewa tanah ke pemerintah Inggris. benih-benih Liberalisme mulai tumbuh di era ini. Inggris menjadi corong masuknya Company bisnis asing di Nusantara yang menyengsarakan rakyat kecil.

Tahun 1815 perang Napoleon berakhir dengan Kekalahan napoleon. Belanda merdeka dari Perancis. otomatis, Belanda kembali berkuasa di Batavia. tapi perebutan jajahan Inggris VS Belanda masih berlangsung, sampai-sampai harus diadakan 2 kali perjanjian antara inggris & Belanda, yang kedua namanya Traktat London. lama-kelamaan, kekuasaan Inggris di Nusantara Berakhir, dan pindah menjajah Singapura.

Perang Diponegoro

Salah satu sebab kenapa penjajah Belanda lebih langgeng di Nusantara adalah karena Belanda tak hanya melancarkan perang fisik, tapi juga memakai strategi Divide et impera (memecah belah). raja dipecah dengan rakyat, kaum Islamis dibentur-benturkan dengan kaum adat. banyak Raja-raja yang bersekutu dengan Belanda, melawan saudaranya sendiri dari kaum Pribumi. Belanda akan memihak kubu yang kemungkinan besar akan menang, lalu setelah kubu itu menang, dihancurkan juga. maka jangan heran kalau Belanda bisa menguasai Nusantara. kala itu dunia menyebut Nusantara sebagai "Dutch east indies" (Hindia Belanda)

Mereka menebar Divide et impera di berbagai daerah. salah satunya di pulau Jawa. saat kerajaan Mataram Runtuh, di jawa tengah terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. salah satu kerajaan itu adalah kerajaan ngayogyakarta (Yogyakarta). Kesultanan ini pernah diduduki inggris, yang lalu dikembalikan kepada belanda. di era inilah mulai Belanda mencengkeram Yogyakarta. menekan kerajaan agar tunduk pada Belanda. di saat yang sama, Belanda memecah-belah rakyat jawa. orang-orang yang kurang iman membantu Belanda, hingga dijuluki "Londo ireng". Pangeran Diponegoro pun melancarkan perang legendaris melawan Belanda & "Londo Ireng".

Untuk menghadapi Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat melawan Imam Bonjol. Perang Jawa ini memakan korban di pihak pemerintah Belanda sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Ngayogyakarta menyusut separuhnya. Setelah perang Dipenogoro, pada tahun 1832 seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk menyerah kepada Belanda kecuali bupati Ponorogo. Diponegoro ditangkap dan diasingkan, dan 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di Makassar.

Perlawanan Imam Bonjol

Di saat yang sama dengan perang Diponegoro, terjadi perlawanan dari Faksi Padri di Sumatera barat. terjadi perang antara Faksi padri yang Islami melawan Faksi adat, di mana kaum adat meminta bantuan dari Belanda untuk melawan Padri. Kaum Padri akhirnya berhasil menguasai Kesultanan pagaruyung. 

Karena begitu gigihnya perlawanan kaum Paderi dan perlawanan Diponegoro di jawa, Belanda menyerukan gencatan senjata. ini disetujui kaum Padri. dan momentum ini dimanfaatkan Kaum Padri untuk merangkul kaum Adat, Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yang dikenal dengan nama "Plakat Puncak Pato" yang mewujudkan kesepakatan bersama "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" yang artinya adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur'an.

Lalu, masyarakat minang yang bersatu itu sepakat melawan belanda. namun kalahnya Diponegoro di Jawa membuat belanda bisa mengkonsentrasikan pasukannya di Minang. inilah saat-saat Heroik di mana rakyat minang mempertahankan Agama & tanah airnya. sampai akhirnya benteng terakhir di Bonjol dikepung dan akhirnya berakhirlah perlawanan mereka.

Datang surat tawaran dari Belanda untuk mengajak berunding. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan. Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang ke Palupuh, tempat perundingan, tanpa membawa senjata. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol, peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang, untuk selanjutnya diasingkan.

Perlawanan di Sulawesi

Kerajaan Gowa-Tallo bersatu dan membentuk kerajaan Bernama Kesultanan Makassar. mereka mempunya Rival yaitu Aliansi 3 kerajaan (Tellumpocoe) yaitu kerajaan Bone, Wajo, dan Sopeng. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Makassar mencapai masa kejayaan.Makassar berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan memperluas wilayah kekuasaannya ke Nusa Tenggara (Sumbawa dan sebagian Flores). Hasanuddin mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur, karena keberaniannya dan semangat perjuangannya untuk Makassar menjadi besar.

Bone tidak menyukai kesuksesan Makasar. sangat disayangkan, raja Bone, Arung Palakka sampai-sampai meminta bantuan Belanda untuk menyerang Makassar. Sultan hasanuddin bertahan dari serangan Bone dan belanda. makassar pun dikuasai Bone. tahun 1814 Inggris menyerang Bone dan berkuasa sementara di daerah ini, tetapi dikembalikan lagi ke Belanda pada 1816 setelah perjanjian di Eropa akibat kejatuhan Napoleon Bonaparte.

Perlawanan di Kalimantan

Awalnya Perlawanan di Kalimantan bisa dibilang tidak terlalu terdengar, sebab 2 kerajaan besar, yakni Banjar (di selatan) & Pontianak (barat) adalah sekutu Belanda. adapun kerajaan Kutai, memilih melawan Belanda. akhirnya Kutai Kalah dan jadi Bawahan Banjar.

Tapi akhirnya Banjar berbalik melawan Belanda karena Belanda sewenang-wenang. terjadilah perang Banjar, perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. muncullah nama-nama seperti , Pangeran Antasari & yang lainnya

Perlawanan di Aceh

Siapa tidak kenal Cut Nyak Dhien ? ia adalah seorang Pahlawan wanita dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Teuku Umar, salah satu tokoh yang melawan Belanda melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada tahun 1880. Mereka dikaruniai anak yang diberi nama Cut Gambang. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Namun, Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899.

Ia berjuang sendirian di hutan Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakit encok dan rabun, sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya keberadaannya ke Belanda karena kasihan. Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akibatnya, Dhien dibuang ke Sumedang. Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang


-------------
Berkat semangat Jihad para Sultan dan umat Islam, wilayah Nusantara ini berhasil dipertahankan. Takbir !

Advertisement