Sentimen Negatif ke Bank Syariah Bermunculan! Apa yang Salah?

Sentimen Negatif ke Bank Syariah Bermunculan! Apa yang Salah?

Rahmatullah.id - Baru-baru ini kita dikejutkan sentimen salah satu tokoh pengusaha nasional yang menyebutkan bahwa Bank Syariah layaknya lintah darat yang mencekik masyarakat dengan skema kreditnya. Bahkan pemuka agama kaliber nasional pun mengatakan hal yang sama.

Sebenarnya Letak Masalahnya Dimana?

Jika kita bedah videonya, ada beberapa poin yang ternyata cukup bertabrakan. Pertama, skema pembiayaan yang dimaksud adalah Sindikasi dengan akad Murabahah.

Pembiayaan Sindikasi mudahnya adalah pembiayaan proyek besar dengan cara patungan antar Lembaga pemberi pembiayaan dan diperantarai oleh agen.

Biasanya proyek-proyek yang termasuk itu seperti pembangunan jalan tol, pembangunan gedung-gedung besar, dan proyek-proyek besar lainnya. Karena keterbatasan kemampuan sebuah lembaga keuangan dalam membiayai proyek tersebut, maka dilakukanlah konsep patungan.

Jika kita melihat bahwa akad yang digunakan adalah Murabahah maka yang berlaku adalah skema jual beli, bukan kerjasama yang mana ada bagi hasil/rugi.

Memang narasi soal perbedaan Konven dengan Syariah seringkali terjadi kesalahan yang mana untuk mempermudah penjelasan, dijawab jika Konven itu dengan Bunga, sedangkan Syariah dengan Bagi Hasil. Padahal bukan seperti itu.

Sehingga, ketika apa yang sebelumnya dipersepsikan oleh sebagian besar masyarakat kita tetapi ternyata berbeda dengan kondisi yang ada maka akan timbul boomerang. Misalnya pernyataan seperti “Bisnis saya sedang rugi, kok gak ada bagi ruginya. Bank mau untung terus”.

Masalah yang selanjutnya, ketika beliau ingin negosiasi terkait besaran margin (yang dianggap bunga) ternyata tidak disetujui. Ini sebenarnya banyak faktor, proses restrukrisasi proyek sindikasi tentu berbeda dengan pembiayaan individual. Hal ini dikarenakan banyak pihak LKS yang terlibat.

Oleh karena itu, sebenarnya memang kita perlu punya Islamic Investment Bank (IIB) untuk mengcover proyek-proyek besar sehingga segala proses kontrak yang terjadi tidak banyak stakeholder yang terlibat. Layaknya kita yang berinvestasi di reksadana, maka Bank Syariah menyalurkan dananya melalui IIB ini untuk dikelola lebih lanjut.

Dan mungkin masalah utama yang bisa dianggap sebagai penyebab sulitnya pertumbuhan market share keuangan syariah kita yang sampai saat ini masih di angka 9% adalah komunikasi public dan kurang kuatnya ekosistem industri.

Industri ini karena dilandasi prinsip bisnis, tentu bersaing satu sama lain dengan tagline sebagai Lembaga Syariah nomer 1 haruslah dikejar.

Mungkin kita lupa, bagaimana Islam dulu pernah berjaya menaklukkan kerajaan-kerajaan besar hanya dengan pasukan yang sedikit?

Jawabannya tentu dengan kesamaan visi-misi pasukan dan kekuatan berjamaah. Mereka tidak berlomba ingin menjadi panglima paling baik dimata Rasulullah, tapi mereka semua ingin panji Islam hadir memberikan rahmat diseluruh dunia.

Lalu mengapa saat ini kita justru ingin bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik alih-alih mencoba berkolaborasi untuk menjadi solusi dari permasalahan umat? Apa yang perlu kita benahi bersama?

 

Referensi

  • Ada Kartel Covid, Bank Syariah Pemeras, Jusuf Hamka - Deddy Corbuzier Podcast
    https://www.youtube.com/watch?v=gxqI6zjJOnY

  • Sentil Bank Syariah Mahal, Yusuf Mansur: Kan Ngemalesin!
    https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20210520081043-29-246868/sentil-bank-syariah-mahal-yusuf-mansur-kan-ngemalesin 
 
Supported: Sharfin.id

Advertisement