Cara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam Menyikapi Pandemi

Cara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam Menyikapi Pandemi

Rahmatullah.id - Dulu di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz ada wabah pandemi juga, yaitu pandemi Thaun. Sama halnya pandemi yang kita alami sekarang, thaun pun menyebar cukup cepat dan mematikan.

Bahkan menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, wabah thaun cukup mengerikan dimana penduduk yang terkena mengeluarkan liur darah dan sesak nafas. Dinding-dinding kota Damaskus miring porak poranda, angin berhembus mengerikan membawa wabah itu.

Para penduduk saat itu patuh sekali dengan para ulama’, mereka sering berkumpul untuk berdoa dan bertaubat serta melakukan shalat istisqa. Namun ternyata hal itu membuat wabah semakin parah.

Saat itu ada perbedaan pendapat dikalangan ulama’ mengenai cara agar wabah thaun segera berakhir.

Ada yang berpendapat bahwa sebaliknya tidak berkumpul banyak orang sekalipun itu untuk memohon ampun dan berdoa agar wabah segera berakhir. Ada juga yang berpendapat sebaliknya.

Namun, Ibnu Hajar Al Asqalani menuliskan bahwa hal seperti itu janganlah menjadikan pertentangan antar saudara.

Bagi ulama’ yang tidak sependapat dengan kegiatan kumpul dipadang terbuka untuk berdoa dikhawatirkan menimbulkan klaim atas amal mereka jika terwujud dan sangka buruk terhadap ulama’, orang shaleh dan doa itu sendiri jika tidak terwujud.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memang terkenal dengan kesederhanaannya, bahkan beliau tidak mau tinggal di istana dan memilih tinggal di rumah dinas.

Bahkan saat pandemi, ketika para orang istana menyarankan untuk isolasi di istana dan menjaga makanannya dengan makanan khusus istana, beliau menolak.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sosok pemimpin yang mampu memberikan teladan kepada rakyatnya untuk mematuhi upaya kesehatan. Bahkan sejarah mencatat, rakyat yang beliau pimpin mampu hidup tenteram dan sejahtera pahal bersamaan dengan situasi pendemi.

Khalifah Umar memilih bekerja dari rumah dinasnya (WFH) tidak didampingi pelayan-pelayan istana dan menerapkan pola hidup sehat. Beliau suka makan sepiring kacang adas. Menu itupun yang dimakan oleh istri serta anak-anak beliau.

Menurut beliau, kacang adas merupakan makanan bergizi tinggi yang murah dan bermanfaat bagi kesehatan lahir maupun batin.

Beliau paham bahwa dimasa sulit, makanan yang beliau makan haruslah memberikan kekuatan batiniah, yaitu agar terhindar dari sikap sombong dan tetap berempati kepada rakyatnya. Bahkan khasiat kacang adas itupun dituliskan dalam hadits.

 

Sumber: Sharfin.id

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url