Covid-19: How Does Preparedness and Response Saudi Arabia?

covid-19

Rahmatullah.id - Pada 2019 ada kecemasan tentang dampak perang dagang AS-Cina, pemilihan presiden AS dan Brexit terhadap Ekonomi Dunia, karena itu, IMF telah memprediksi pertumbuhan global yang moderat sebesar 3,4 persen. Akan tetapi hadirnya Covid-19 mengubah pandangan secara tak terduga. Karena Ketakutan dan ketidakpastian serta penilaian rasional bahwa laba perusahaan cenderung lebih rendah karena dampak Covid-19. Pasar saham global menghapus sekitar US$ 6 triliun kekayaan dalam satu minggu dari 24 hingga 28 februari. Indeks S&P 500 kehilangan lebih $ 5 triliun nilainya pada minggu yang sama di AS. Sementara 10 perusahaan terbesar S&P 500 mengalami kerugian gabungan lebih dari $ 1,4 triliun (Randewich, 2020), meskipun beberapa diantaranya pulih pada minggu berikutnya. Beberapa kerugian nilai tersebut disebabkan oleh penilaian rasional oleh investor bahwa laba perusahaan akan menurun karena dampak virus corona.

Dampak dari adanya Covid-19 juga tidak luput berpengaruh terhadap negara-negara lainnya. Namun dalam pembahasan kali ini, penulis hanya akan membahas khusus mengenai dampak Covid-19 di Arab Saudi serta penanganan yang telah dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi.

Secara global, per 11 Januari 2021 telah ada 89.048.345 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi termasuk 1.930.265 kematian di 223 negara yang dilaporkan kepada WHO (WHO, 2021). Arab Saudi telah dilanda dua guncangan, yakni: penyebaran Covid-19 dan penurunan tajam harga minyak (IMF, 2021). Di Arab Saudi, Mulai tanggal 2 Maret hingga 30 Juli 2020 ada 272.590 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dengan 2.816 kematian. Kasus pertama yang dikonfirmasi pada 2 Maret 2020 (Alsofayan, Althunayyan, Khan, Hakawi, & Assiri, 2020). Berbagai Langkah telah di terapkan untuk membatasi penyebaran virus seperti adanya jam malam; pembatasan perjalanan (termasuk pada penerbangan International dan transportasi umum internal dan taksi); menangguhkan shalat di masjid; menutup semua sekolah, universitas, dan pusat perbenlanjaan; menangguhkan kehadiran karyawan di tempat kerja pemerintah dan swasta (kecuali untuk staff inti). (Nurunnabi, 2020). Akomodasi perumahan sementara dan penerbangan repatriasi ditawarkan kepada pekerja ekspatriat. Pemerintah juga membatasi musim haji tahun ini hanya sekitar 1000 jemaah haji. Ekonomi mengalami kontraksi sebesar 4,2 persen secara year-on-year pada 2020Q3 setelah menurun sebesar 7 persen dari tahun ke tahun pada 2020Q2, sementara data frekuensi tinggi seperti titik PMI untuk pemulihan lebih lanjut pada 2020Q4 (IMF, 2021).

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tentunya sudah mengantisipasi jikalau akan terjadi resesi ekonomi yang parah, pemerintah akan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif dengan memutuskan untuk meningkatkan pinjaman dan membelanjakan lebih banyak pengeluaran di sektor infrastruktur. Secara teoritis peningkatan pengeluaran pemerintah ini memberikan suntikan dana ke dalam perekonomian dan membantu menciptakan lapangan kerja. Serta akan menyebabkan munculnya efek multiplier di mana injeksi awal ke dalam ekonomi menghasilkan dampak lebih lanjut dari pengeluaran yang lebih tinggi tersebut. Peningkatan permintaan agregat itu sendiri dapat membantu perekonomian keluar dari resesi. Jika pemerintah merasa bahwa inflasi adalah suatu masalah maka mereka dapat mengejar kebijakan fiskal deflasioner (pajak yang lebih tinggi dan pengeluaran yang lebih rendah) dalam rangka mengurangi tingkat pertumbuhan ekonomi. (Sikki, 2020)

Penelitian Sebelumnya

Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh (Yezli & Khan, 2020), mereka menekankan kepada aspek Social Distancing sebagai pengamanan dari penyebaran dampak pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan mengingat bahwa Arab Saudi sering mengadakan berbagai ritual keagamaan secara masal seperti shalat jamaah dan ibadah skala internasional seperti umroh dan haji penutupan sementara tempat pendidikan dan masjid dan menunda semua pertemuan yang tidak penting, hingga memberlakukan jam malam. Langkah-langkah ini diambil terlepas dari tantangan sosial-ekonomi, politik, dan agama mereka demi kepentingan kesehatan masyarakat dan global.

Kemudian, penelitian Selanjutnya dilakukan oleh (Ozili & Arun, 2020), mereka mengungkapkan bahwa meningkatnya jumlah hari lockdown, keputusan kebijakan moneter dan pembatasan perjalanan internasional sangat mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi dan penutupan, pembukaan, harga saham terendah dan tertinggi dari indeks pasar saham utama. Sebaliknya, diberlakukannya pembatasan pergerakan internal dan belanja kebijakan fiskal yang lebih tinggi berdampak positif pada tingkat kegiatan ekonomi, meskipun meningkatnya jumlah kasus virus corona yang terkonfirmasi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kegiatan ekonomi.

Abdullah A Algaissi, dkk telah melakukan perbandingan penanganan kasus pandemi Covid-19 yang terjadi di Arab Saudi dengan pengalaman Kerajaan Arab Saudi menghadapi MERS-Cov yang telah terjadi pada tahun 2012 silam. Mereka menyimpulkan bahwa Kerajaan Arab Saudi telah memberlakukan sejumlah langkah ekstrem pada gerakan sosial, pertemuan sosial dan agama, perjalanan, dan bisnis jauh sebelum kasus COVID-19 pertama dilaporkan di negara itu dan sebelum mencapai 100 kasus. Diharapkan Arab Saudi akan memiliki kurva yang lebih datar dan mungkin dapat mengendalikan pandemi lebih cepat daripada negara lain. Pengalaman Epidemi MERS membantu Arab Saudi untuk memiliki sistem kesehatan masyarakat yang lebih baik dan kebijakan dan langkah-langkah pengendalian infeksi. (Algaissi, Alharbi, Hassanain, & Hashem, 2020)

Pembahasan

Dalam penanganan kasus penyebaran Covid-19 yang telah ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi, Arab Saudi telah memberlakukan berbagai macam kebijakan baik itu fiskal dan moneter.

Kebijakan fiskal dilakukan oleh pemerintah berupa perubahan pada tingkat pengeluaran pemerintah atau tingkat pajak untuk meningkatkan permintaan agregat dan pertumbuhan ekonomi. (Hommes, Massaro, & Weber, 2019). Sedangkan kebijakan moneter dilakukan oleh Bank Sentral atau Otoritas moneter yang terdiri dari penetapan suku bunga dan mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Di Arab Saudi, tugas ini dilakukan oleh Badan Moneter Arab Saudi (SAMA) sebagai agen pemerintah (Al Jasser & Banafe). Kebijakan moneter harus memperhatikan kebijakan fiskal. Sangat sering kebijakan moneter digunakan untuk menyempurnakan efek dari kebijakan fiskal.

Kebijakan Fiskal Kerajaan Arab Saudi

Kerajaan Arab Saudi telah memberikan beberapa kebijakan diantaranya; Paket dukungan sektor swasta SAR 70 miliar ($ 18,7 miliar atau 2,8 persen dari PDB) diumumkan pada 20 Maret. Paket tersebut meliputi penangguhan pembayaran pajak pemerintah, biaya, dan iuran lainnya untuk memberikan likuiditas kepada sektor swasta dan peningkatan pembiayaan yang tersedia melalui Dana Pembangunan Nasional. Pemerintah telah membuat realokasi anggaran (SAR 47 miliar) untuk meningkatkan sumber daya yang tersedia bagi Kementerian Kesehatan untuk melawan virus tersebut.

Pada 3 April, pemerintah mengizinkan penggunaan dana asuransi pengangguran (SANED) untuk memberikan dukungan untuk tunjangan upah, dalam batas tertentu, kepada perusahaan sektor swasta yang mempertahankan staf Saudi mereka (SAR 9 miliar, 0,4 persen dari PDB) dan meringankan pembatasan mobilitas tenaga kerja ekspatriat dan pengaturan kontrak mereka. Pada 15 April, langkah tambahan untuk memitigasi dampak terhadap sektor swasta diumumkan, termasuk subsidi listrik sementara untuk sektor komersial, industri, dan pertanian (SAR 0,9 miliar).

Pada 10 Mei, Kementerian Keuangan mengumumkan langkah-langkah fiskal baru untuk meningkatkan lebih banyak pendapatan non-minyak dan merasionalisasi pengeluaran. Langkah-langkah ini terdiri dari penghapusan tunjangan biaya hidup bagi pekerja sektor publik yang efektif 1 Juni dan meningkatkan PPN dari 5% menjadi 15% efektif 1 Juli.

Pada akhir Mei, otoritas bea cukai Saudi mengumumkan peningkatan bea masuk untuk berbagai barang impor, yang mulai berlaku pada 20 Juni. Pada 2 Juli, pihak berwenang mengumumkan perpanjangan langkah-langkah dukungan sektor swasta (terkait COVID) yang akan berakhir akhir Juni, termasuk melanjutkan pembayaran tunjangan upah kepada Saudi yang bekerja di sektor swasta melalui SANED, dan lebih lanjut menunda pembayaran beberapa pajak dan bea. Pada 14 Juli, Kementerian Keuangan meluncurkan program SAR 670 juta untuk membantu bisnis menunda pembayaran pinjaman yang jatuh tempo tahun ini. Pada 29 September, GOSI mengumumkan perpanjangan 3 bulan lagi (mulai 1 November 2020) dukungan kepada Saudi yang bekerja di sektor ekonomi yang terkena dampak COVID (dibatasi maksimal 50 persen pekerja Saudi per pendirian). Pada 5 Oktober, Menteri Keuangan mengumumkan perpanjangan keringanan denda untuk semua pengajuan pajak dan pembayaran untuk tambahan 3 bulan hingga 31 Desember 2020.

Kebijakan Moneter Kerajaan Arab Saudi

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, kebijakan moneter merupakan bagian dari penyempurnya atas kebijakan fiskal, maka dalam hal ini, Bank Sentral Saudi (SAMA) mengurangi suku bunga kebijakannya dua kali pada bulan Maret, menurunkan suku bunga reverse repo dan repo masing-masing sebesar 1,25 pp menjadi 0,5 dan 1 persen. Pada 14 Maret, SAMA mengumumkan paket SAR 50 miliar ($ 13,3 miliar, 2 persen dari PDB) untuk mendukung sektor swasta, khususnya UKM, dengan memberikan pendanaan kepada bank untuk memungkinkan mereka menunda pembayaran pinjaman yang ada dan meningkatkan pinjaman kepada bisnis. Bank sentral juga akan menanggung biaya untuk toko dan entitas sektor swasta untuk transaksi point-of-sale dan e-commerce selama 3 bulan. Sejumlah total SAR 100 miliar telah digunakan di bawah program-program ini. SAMA juga telah menginstruksikan bank untuk menunda pembayaran pinjaman yang diperpanjang untuk semua karyawan Saudi 3 bulan tanpa biaya tambahan, untuk memberikan pembiayaan yang dibutuhkan oleh pelanggan yang kehilangan pekerjaan dan membebaskan pelanggan dari berbagai biaya perbankan. Pada 1 Juni, SAMA mengumumkan suntikan SAR 50 miliar ke perbankan melalui penempatan deposito untuk mendukung likuiditas perbankan dan kredit sektor swasta. Pada 1 September, SAMA memperpanjang program pembayaran pinjaman tangguhan selama 3 bulan hingga 14 Desember 2020. Pada 3 November, SAMA mengumumkan perpanjangan program deferral pembayaran untuk mendukung sektor swasta hingga akhir Maret 2021

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukan bahwa Kerajaan Arab Saudi telah memiliki pengalaman dalam penangan pandemi ini. Sehingga ketika terjadi pandemi Covid-19 Kerajaan Arab Saudi telah siap untuk melalukan beberapa kebijakan yang bisa dibilang cukup berani di ambil diantaranya ­Social distancing, Lockdown total, serta Mengurangi aktifitas beribadah yang biasanya dilakukan skala international. Mereka lebih mengutamakan kesehatan masyarakat dari pada takut akan hal yang mengancam tantangan sosial-ekonomi, politik. Dalam kebijakan fiskalnya, Arab Saudi telah melakukan intervensi yang cepat tanggap dalam menaikan anggaran pengeluaran pemerintah dan keringanan denda pajak. Serta kebijakan lainnya yang sangat Membantu warganya. Di lain itu untuk kebijakan moneternya, Kerajaan Arab Saudi telah Mengurangi suku bunga dua kali lipat di Bulan maret. Dan Bank Sentral Arab Saudi telah membantu sektor swasta khususnya UKM, dengan memberikan pendanaan kepada bank untuk memungkinkan mereka menunda pembayaran pinjaman yang ada dan meningkatkan pinjaman kepada bisnis.



References

  • Al Jasser, M., & Banafe, A. (n.d.). Monetary policy instruments and procedures. Retrieved from Bank for International Settlements: https://www.bis.org/publ/plcy05j.pdf
  • Algaissi, A. A., Alharbi, N. K., Hassanain, M., & Hashem, A. M. (2020). Preparedness and response to Covid-19 in Saudi Arabia: Building on MERS Experience. Journal of Infection and Public Health. doi: https://doi.org/10.1016/j.jiph.2020.04.016
  • Alsofayan, Y. M., Althunayyan, S. M., Khan, A. A., Hakawi, A. M., & Assiri, A. M. (2020). Clinical Characteristics of Covid-19 in Saudi Arabia: A National Retrospective Study. Journal of Infection and Public Health, Vol. 13 No. 7.
  • Babbie, E. (2014). The Basics of Social Research (6th ed.). Belmont, California: Wadsworth Cengage.
  • Hommes, C., Massaro, D., & Weber, M. (2019). Monetary Policy Under Behavioral Expectations: Theory and Experiment. European Economic Review, 193-212.
  • IMF. (2021, January 8). Policy Responses to Covid 19. Retrieved from International Monetary Fund: https://www.imf.org/en/Topics/imf-and-covid19/Policy-Responses-to-COVID-19
  • Nurunnabi, M. (2020). Recovery Planning and Resilience of SMEs during the Covid-19: Experience from Saudi Arabia. Journal of Accounting & Organizational Change, 16(4), 643-653.
  • Ozili, P., & Arun, T. (2020). Spillover of COVID-19: Impact on the Global Economy. SSRN Electronic Journal, 1-27.
  • Randewich, N. (2020, Maret 10). Coronavirus, oil collapse erase $5 trillion from U.S. stocks. Retrieved from Reuters: https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-stocks-carnage/coronavirus-then-oil-collapse-erase-5-trillion-from-u-s-stocks-idUSKBN20W2TJ
  • Sikki, K. L. (2020). Kebijakan Ekonomi Arab Saudi dalam Mengantisipasi Pendemi Covid-19. Journal of Islamic Civilization, 2(1), 8-16.
  • WHO. (2021, January 11). Coronavirus disease (COVID-19) Pandemic. Retrieved from World Health Organization: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019
  • Yezli, S., & Khan, A. (2020). COVID-19 social distancing in the Kingdom of Saudi Arabia: Bold measures in the face of political, economic, social, and religious challenges. Travel Medicine and Infectious Disease, 1-4. DOI: https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2020.101692

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url